News

GOG Bela Hak Milik Gamer, Sentil Disc Fisik PlayStation

GOG Bela Hak Milik Gamer, Sentil Disc Fisik PlayStation

Rencana PlayStation untuk perlahan meninggalkan disc fisik, dengan target sekitar Januari 2028, memicu perdebatan panas soal kepemilikan game. Di tengah kekhawatiran bahwa era digital-only membuat pemain hanya “menyewa” game lewat lisensi, GOG justru tampil lantang menyuarakan posisi yang berlawanan: kamu berhak benar-benar memiliki game yang kamu beli.

GOG: Game yang Kamu Beli Tetap Jadi Milikmu

Beberapa hari sebelum pengumuman PlayStation, GOG lebih dulu bersuara di X. Toko game milik CD Projekt yang kini berdiri independen ini menegaskan bahwa pemain tidak perlu izin dari sebuah storefront untuk memainkan game yang sudah dibeli. Pesan intinya tegas, bahkan jika sebuah game hilang dari etalase GOG, game itu tidak akan pernah lenyap dari library kamu.

Kunci Utamanya: DRM-Free dan Offline Installer

Kekuatan argumen GOG bertumpu pada desain DRM-free. Karena tidak butuh verifikasi atau koneksi internet, game yang kamu beli tetap bisa dimainkan meski sudah lenyap dari toko. GOG bahkan mengajak pemain mengunduh offline installer, menyimpannya di disc, dan menjadikannya milik selamanya. File itu juga disebut bisa dibakar ke CD, DVD, maupun Blu-ray untuk keperluan pribadi, sesuatu yang mustahil dilakukan pada game digital ber-DRM. Ironisnya, saat PlayStation menutup pintu disc fisik, GOG justru menyarankan pemain bikin versi fisiknya sendiri dari file digital.

Bagian dari Debat Besar Kepemilikan Digital

Sikap GOG ini muncul di tengah perdebatan yang lebih luas. Hampir semua storefront digital sebenarnya hanya menjual lisensi, bukan kepemilikan penuh, dan sebuah undang-undang di California kini memaksa toko untuk mengakui fakta itu secara terbuka. GOG memposisikan diri sebagai penantang model tersebut, diperkuat lewat Preservation Program yang sejak 2024 berkomitmen menjaga game tetap bisa dimainkan dan bebas DRM, agar tidak hilang gara-gara sengketa lisensi atau server yang mati.

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Dalam beberapa tahun terakhir, pemain berkali-kali menyaksikan game yang sudah dibeli mendadak sulit diakses saat judulnya ditarik dari toko atau ketika server penjualnya dimatikan. Sejumlah kasus penarikan konten digital di platform besar menjadi pengingat bahwa “membeli” di era digital sering kali hanya berarti menyewa akses jangka panjang. Di titik inilah pesan GOG menemukan relevansinya, karena menawarkan cara agar koleksi game tidak sepenuhnya bergantung pada keputusan pihak lain.

Tanggapan Pemain

Sikap GOG mendapat sambutan dari komunitas, termasuk dari sejumlah figur yang kerap menyuarakan isu preservasi game. Bagi banyak pemain, langkah PlayStation dianggap mempercepat hilangnya rasa memiliki, sementara pendekatan GOG dinilai jadi pengingat bahwa kepemilikan sejati masih mungkin di dunia digital.

Catatan Penting: Tetap Lisensi, Tapi Beda Praktik

Menariknya, GOG cukup jujur mengakui bahwa secara hukum, game di GOG pun tetap berstatus lisensi, bukan kepemilikan mutlak. Bedanya ada pada realitas teknis. Dengan offline installer yang bisa diunduh sekali dan disimpan di mana saja, game itu praktis tetap di tanganmu, tidak bisa dihapus oleh server yang padam maupun keputusan korporat. Inilah yang membedakannya dari masa depan digital-only ala PlayStation, di mana akses sangat bergantung pada izin platform.

Jadi, apakah arah PlayStation menandai matinya rasa memiliki game, atau justru membuka peluang bagi model seperti GOG untuk bersinar? Kami sajikan fakta dan tanggapan dari kedua sisi, penilaiannya kami serahkan padamu.

Sumber

Baca juga