
Doom Jalan di Microsoft Paint, Dibikin CTO Azure Bareng AI
Doom sekarang bisa dimainkan dengan Microsoft Paint sebagai layarnya, lengkap dengan suara, musik, dan kontrol keyboard biasa. Yang bikin bukan modder anonim, tapi Mark Russinovich, CTO Microsoft Azure.

Proyeknya bernama DoomPaint, dirilis open source di GitHub dengan lisensi MIT. Repositorinya dibuat 18 Juli 2026 dan terakhir diperbarui 21 Juli 2026. Russinovich mengumumkannya lewat unggahan di LinkedIn dan Threads.
Paint cuma jadi monitor, bukan mesin gamenya
Ini bagian yang paling sering salah dibaca. Paint tidak menjalankan Doom. Yang menjalankan game adalah ViZDoom, build berbasis ZDoom yang aslinya dipakai untuk riset AI. ViZDoom merender game secara headless, lalu tiap frame dikirim ke clipboard Windows dan di-paste ke kanvas Paint sebagai suntingan dokumen biasa.
Jadi dari sudut pandang Paint, kamu sedang menempel gambar berkali-kali dalam satu detik. Russinovich menutup README-nya dengan kalimat yang tidak perlu ditafsir lagi: “Paint renders the game but does not compute it. Paint computes nothing. Paint has never computed anything. That’s the joke.”
Data gamenya asli. Episode pertama memakai DOOM1.WAD versi shareware yang memang bebas disebarkan. Map di luar episode satu jatuh ke Freedoom yang berlisensi BSD. Kalau kamu punya doom.wad atau doom2.wad versi komersial, tinggal taruh di folder wad\.
Satu hal yang perlu diluruskan, karena banyak yang menyebut ini “engine Doom asli”: yang dipakai turunan ZDoom, bukan kode id Software 1993. Russinovich menulisnya sendiri di bagian “Honest asterisks” README.
Trik clipboard yang bikin Paint berhenti error
Bagian tersulit ternyata bukan Doom-nya, tapi cara melawan Paint.
Pendekatan naif adalah memanggil EmptyClipboard dan SetClipboardData tiap frame. Masalahnya, Paint membaca gambar dari clipboard sesuai jadwalnya sendiri. Kalau clipboard ditimpa sementara pembacaan masih berjalan, Paint memunculkan dialog “Can’t complete operation” dan paste-nya mati diam-diam. Russinovich menulis bahwa masalah ini muncul terus-menerus, dan timer tunggu tidak menyelesaikannya karena latensi paste berubah-ubah tergantung ukuran frame.
Solusinya berhenti menulis ulang clipboard sama sekali. Windows mengizinkan aplikasi memiliki clipboard sebagai OLE data object lewat OleSetClipboard. Objek itu dipublikasikan sekali, lalu isi frame-nya diperbarui di tempat. Karena objeknya reference-counted, pembacaan yang sedang berjalan tetap valid saat frame berikutnya datang. Balapan datanya hilang, dialog errornya ikut hilang.
Ada juga low-level keyboard hook (WH_KEYBOARD_LL) yang menelan tombol permainan selama Paint jadi jendela aktif. Tanpa itu, satu tekan tombol panah saja bisa menggeser seleksi atau menutup menu paste, dan gamenya membeku beberapa detik.
Ctrl+Z jadi tombol nyawa tambahan
Karena tiap frame adalah satu langkah edit di Paint, konsekuensinya lucu dan sepenuhnya nyata.
- Ctrl+Z memutar balik waktu. Tiap frame satu undo step. Mati kena Imp? Tinggal undo.
- File > Save menghasilkan file
.pngyang sah dari frame yang sedang tampil, karena bagi Paint kamu memang menggambarnya sendiri. - Frame rate mentok di 35 FPS, angka yang bukan kebetulan: itu tic rate asli Doom.
Resolusi jadi pengungkit terbesar buat kelancaran, karena beban Paint ditentukan jumlah piksel. Bawaannya 640×400. Kalau diturunkan ke --res 320x200, resolusi native Doom, jumlah pikselnya tinggal seperempat dan bisa mentok di 35 FPS penuh. Suara efek keluar dari engine lewat OpenAL, sementara musiknya diambil langsung dari lump WAD, dikonversi dari format MUS ke MIDI, lalu diputar lewat sequencer MIDI bawaan Windows.
Dibikin sambil menjajal model AI
Russinovich menempatkan proyek ini sebagai selingan dari pekerjaan risetnya. “I’ve been using Fable 5 on serious research projects and find it a noticeable improvement over Opus 4.8,” tulisnya di LinkedIn. “I’ve also been having fun with it on frivolous ones. This morning I got Doom on Microsoft Paint.”

Dia menekankan bedanya dengan usaha serupa sebelumnya, yang merender ke jendela terpisah lalu dicerminkan ke Paint. Versinya “fully integrated with music, sound effects, and standard keyboard controls”, dan dia menutup dengan “Amazing (and yes, extremely frivolous).”

Fable 5 dan Opus 4.8 yang dia sebut adalah model AI keluarga Claude buatan Anthropic. Jejaknya kelihatan di repositori: kontributor yang tercantum ada tiga, yaitu markrussinovich, claude, dan Copilot, dengan sebagian commit tertulis dikerjakan bersama claude.
Butuh Windows dan Python buat mencobanya
Syaratnya cuma Windows dan Python. Jalankan run.bat, dan skripnya membuat venv plus memasang dependensi di jalan pertama. Paint akan terbuka sendiri, lalu kontrolnya standar: WASD untuk gerak, Ctrl atau F untuk menembak, Space untuk membuka pintu, F12 untuk keluar.
Ada beberapa flag yang berguna, seperti --map E1M2 untuk lompat map, --skill 1..5 untuk tingkat kesulitan, dan --no-music kalau kamu cuma mau efek suaranya. Repositorinya sendiri masih kecil, 66 star dan 3 fork saat dicek.
Yang bikin orang kagum bukan bagian Doom-nya
Reaksi warganet terbelah antara yang terhibur dan yang menyoroti sisi teknisnya. Akun @puritysin menanggapi kabar ini di X dengan, “Again Doom will always be the greatest game in history”. Ini pendapat pribadi warganet, bukan pernyataan pihak mana pun.
Again Doom will always be the greatest game in history
— puritysin (@puritysin) August 3, 2026
Di Hacker News, pengguna dengan nama samch justru mengutip langsung penjelasan render headless dan paste clipboard dari README, lalu menyebutnya “Pretty impressive”.
Beritanya kemudian diangkat Tom’s Hardware dan TechSpot. Artikel TechSpot ditulis Rob Thubron dan terbit 3 Agustus 2026.
Kalau Doom sudah bisa jalan di Paint sampai 35 FPS, kira-kira aplikasi Windows apa lagi yang pantas dijadikan monitor berikutnya?
Sumber
- Repositori DoomPaint di GitHub (Mark Russinovich)
- README DoomPaint, penjelasan teknis dan Honest asterisks
- Unggahan Mark Russinovich di LinkedIn
- Unggahan Mark Russinovich di Threads
- Tom’s Hardware: Microsoft Paint used as a monitor to run Doom at up to 35 fps
- TechSpot: Doom now runs in Microsoft Paint thanks to a wildly inventive clipboard trick (Rob Thubron, 3 Agustus 2026)
- Diskusi di Hacker News