
Developer Ramai Dukung Label AI Steam: Gamer Berhak Tahu
Makin banyak developer game yang terang-terangan mendukung kebijakan AI disclosure di Steam. Alasannya satu: pemain berhak tahu ketika generative AI dipakai dalam sebuah game. Dukungan ini muncul justru saat kebijakan tersebut sedang diserang keras dari sisi industri.
Suara Para Developer
GamesRadar mewawancarai hampir tiga lusin developer soal generative AI. Banyak di antaranya menilai kewajiban Valve sudah tepat, karena memberi transparansi sekaligus membantu pemain mengambil keputusan secara sadar sebelum membeli.

Brian “Burgee”, kreator MMO simulasi Erenshor, menegaskan bahwa gamer berhak tahu bagaimana game mereka dibuat dan berhak memilih apa yang mereka dukung. Menurutnya, kewajiban disclosure Steam adalah langkah yang tepat demi transparansi. Ia bahkan berharap komunitas gaming ikut “police this topic on their own behalf”, alias turut mengawasi sendiri isu ini.
Brandon Sheffield dari Necrosoft Games sependapat, sambil blak-blakan menyebut kelemahannya: ia senang Steam mewajibkan disclosure, “even if many devs simply don’t disclose it”, dan berharap semua platform melakukan hal serupa. Helen Carmichael dari Grey Alien Games menambahkan bahwa transparansi memang penting untuk dinyatakan secara terbuka.
Label AI Itu Bukan Larangan, Justru Pembuka Pintu
Banyak yang salah paham dan mengira Steam anti-AI. Faktanya kebalikannya. Pada Juni 2023, Valve sempat melarang total game yang dibuat dengan AI masuk ke Steam karena kekhawatiran pelanggaran hak cipta. Baru pada Januari 2024 larangan itu dicabut dan diganti sistem disclosure, dengan tujuan eksplisit agar mayoritas game yang memakai AI bisa dirilis.
Artinya, label AI bukan hukuman, melainkan syarat yang justru membuka pintu. Tanpa sistem itu, game-game berbasis AI kemungkinan masih terlarang sampai hari ini. Posisi Valve pun konsisten dengan sikap bosnya sendiri, Gabe Newell, yang justru sangat pro-AI dan menyebut teknologi ini sebagai “cheat code”. Mengizinkan AI sambil mewajibkan keterbukaan bukanlah dua hal yang bertentangan.
Epic Menolak Keras
Penolakan justru datang dari puncak industri. Tim Sweeney, bos Epic Games, menyebut kebijakan Valve “really irresponsible” dan menganggap labelnya sebagai “Scarlet Letter” yang tidak adil, karena dinilai membuat peluang sukses developer jauh lebih berat. Ia berargumen AI akan terlibat di hampir semua produksi game masa depan, sehingga melabelinya menjadi tidak masuk akal.
Kontras inilah yang membuat posisi Valve terlihat menonjol di mata pemain. Di satu sisi ada platform yang memilih membuka informasi, di sisi lain ada eksekutif yang justru ingin label itu ditiadakan.
Skalanya Sudah Besar
Perdebatan ini bukan soal kasus kecil. Per 13 Juli 2026, tercatat lebih dari 17.250 game di Steam sudah memasang disclosure AI menurut data AI Transparency Index. Sekitar 69 persen memakainya untuk konten in-game seperti artwork, tulisan, audio, dan lokalisasi, 17 persen untuk materi marketing, sementara 30 persen judul memakai AI untuk dua tujuan atau lebih.
Tren kenaikannya curam, dari sekitar 7.300 game pada Maret 2026 menjadi 17.250 hanya dalam hitungan bulan. Di Steam Next Fest Juni 2026, hampir satu dari lima judul membawa label AI. Nama besar seperti PUBG, Call of Duty, ARC Raiders, dan The Finals pun ikut masuk daftar.
Catatan Kritis: Penegakannya Masih Lemah
Dukungan developer tidak berarti sistemnya sempurna. Di kolom komentar, keraguan soal penegakan justru banyak bermunculan. Banyak yang menilai mustahil membuktikan pemakaian AI tanpa akses ke source code, apalagi hasil AI untuk aset 2D maupun 3D makin sulit dibedakan. Sebagian menyebut sudah melihat game dengan thumbnail dan logo yang jelas buatan AI, tetapi tanpa disclosure sama sekali.
Kecurigaan itu berdasar. Sistem Steam bertumpu pada self-report developer, sementara kemampuan Valve mendeteksi konten AI yang tidak dilaporkan sangat terbatas. Kasus nyatanya sudah ada: developer Crimson Desert sempat meminta maaf karena gagal mencantumkan disclosure, dan pengumumannya baru muncul setelah game rilis. Bahkan ada pemain yang ditolak permintaan refund-nya gara-gara label itu menyusul belakangan.
Dua Nuansa yang Sering Terlewat
Pertama, asumsi bahwa semua gamer benci AI ternyata tidak sepenuhnya benar. Sebuah survei menemukan hanya 31 persen pengguna Steam yang mempermasalahkan AI dalam game, sementara 43 persen menyatakan tidak keberatan sama sekali.
Kedua, banyak orang menyamakan semua jenis AI. Padahal Valve sudah memperjelas aturannya: tool AI untuk efisiensi kerja seperti code helper tidak wajib dilaporkan. Yang wajib dicantumkan adalah konten generatif yang benar-benar dikonsumsi pemain, atau konten AI yang muncul saat gameplay berlangsung.
Jadi, apakah dukungan para developer ini cukup untuk membuat label AI benar-benar bermakna, atau percuma selama penegakannya masih bergantung pada kejujuran masing-masing studio? Kami sudah menyajikan suara developer, data, dan keberatan dari sisi industri. Silakan tarik kesimpulanmu sendiri.
Sumber
- GamesRadar: Developer dukung kewajiban AI disclosure Steam
- PC Guide: “I wish all platforms would do the same”
- AlternativeTo: Valve cabut larangan AI dan terapkan disclosure
- GamesRadar: Tim Sweeney sebut disclosure Steam tidak bertanggung jawab
- PC Guide: Lebih dari 17.000 game Steam kini punya AI disclosure
- GamesRadar: Survei sikap pengguna Steam terhadap AI
- Notebookcheck: Kasus disclosure telat Crimson Desert